Pengumuman Panitia Pelaksana dan Peer Fasilitator 3rd Young Queer Faith and Sexuality Camp

Hai Para Peacemaker!

Hampir satu bulan proses rekrutmen Panitia Pelaksana dan Peer Fasilitator untuk 3rd Young Queer Faith and Sexuality Camp (YQueerFSCamp) ini berlangsung, yakni dimulai dari seleksi tahap administrasi hingga wawancara. Ketertarikan peacemaker untuk menjadi bagian dari penggerak kegiatan ini menunjukkan bahwa YQueerFSCamp merupakan ruang dialog bagi keragaman identitas iman dan seksual dikalangan anak muda yang penting untuk terus diupayakan keberlangsungannya, dengan semangat membangun kesukarelawanan dan gerakan anak muda lintas identitas. Bagi peacemaker yang namanya tidak tercantum, YQueerFSCamp masih akan membuka kesempatan untuk volunteer dan peserta. Jadi, terus ikuti perkembangan informasi melalui twitter, facebook fanpage, maupun blog ini!

Dan, selamat bergabung pagi para peacemaker yang terpilih! Mari bersama-sama mewujudkan perdamaian dalam keragaman identitas iman dan seksual melalui 3rd YQueerFSCamp! Proses yang akan dilewati bersama selama 6 (enam) bulan, yakni Mei – November 2014, akan menjadi momen penting untuk berkontribusi langsung dalam mengusahakan perubahan yang diinginkan serta menguatkan satu sama lain dalam menghadapi berbagai tantangan, baik dari diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

Berikut ini adalah para peacemaker yang terpilih :

Panitia Pelaksana

Project Manager : M. Anis Alghifari

Keuangan : Jihan Fairuz

Administrasi dan Kesekretariatan : Okita Tadastra

Materi dan Acara : Hendra Sobarna

Media dan Publikasi : Noval Prahara Putra

Venue dan Logistik : Setya Budi Wardana

 

Peer Fasilitator

Muhammad Safiq Niami

Ari Setiawan

Rangga Zainal Muttaqin

 

Pertemuan perdana akan dilaksanakan pada 4 Mei 2014 di Yogyakarta pukul 11.00 dan tempat akan dikabari satu minggu sebelumnya. Bagi panitia pelaksana dan peer fasilitator yang tinggal di luar Yogyakarta, silakan mempersiapkan perjalanan dan akomodasinya.

Sampai bertemu di Yogyakarta!! :D

REKRUTMEN PANITIA PELAKSANA & PEER FASILITATOR 3rd YQueerFSCAMP 2014

Salam Keberagaman,

Tahun 2014 Youth Interfaith Forum on Sexuality (YIFoS) kembali akan mengadakan 3rd Young Queer Faith and Sexuality Camp yang . Untuk itu YIFoS mengundang partisapasi rekan-rekan sebagai Panitia Pelaksana dan Peer Fasilitator. Berikut persyaratan dan kriterianya.

A. PANITIA PELAKSANA

Persyaratan Umum

  • Usia 18-30 tahun, perempuan, laki-laki, transgender, dan queer
  • Diutamakan bagi yang pernah mengikuti Young Queer Faith and Sexuality Camp
  • Mendukung keberagaman identitas serta penegakan dan pemajuan HAM;
  • Memiliki akses internet dan mampu menggunakan fb, twitter dan skype
  • Berkomitmen untuk menghadiri rapat online dan offline (Rapat online diselenggarakan di minggu ke-3 setiap bulan. Rapat offline dilaksanakan di minggu ke-3 pada bulan Juni 2014 dan minggu ke-1 Agustus 2014, dimana Rapat perdana pada 4 Mei 2014)
  • Melengkapi formulir pendaftaran (kriteria dan jobdesk terlampir)
  • Mengirimkan foto (max 200kb).

B. PEER FASILITATOR

Kriteria Peer Fasilitator

  •  Warga Negara Indonesia;
  • Perempuan, laki-laki, transgender (waria, priawan), atau queer berusia 18 – 25 tahun;
  • Pernah mengikuti Young Queer Faith and Sexuality Camp pertama ataupun kedua;
  • Mendukung keberagaman identitas serta penegakan dan pemajuan HAM;
  • Komunikatif, mampu menjadi pendengar yang baik dan peka terhadap dinamika kelompok;
  • Mampu bekerjasama dalam tim.
  • Bersedia berada di lokasi selama acara kemah berlangsung.
  • Mengisi formulir pendaftaran (kriteria dan jobdesk terlampir)

Penyerahan formulir dapat dilakukan melalui e-mail yqueerfscamp@gmail.com dimulai dari tanggal 25 Maret 2014 dan ditutup pada 8 April 2014 pukul 23:59 WIB.

Salam,

Youth Interfaith Forum on Sexuality

Waktu Pendaftaran Anggota YIFoS Diperpanjang!

Di posting sebelumnya͵ YIFoS menginformasikan tentang pendaftaran anggota. Kabar baik bagi Sobat YIFoS karena kami memperpanjang waktu pendaftaran menjadi 31 Desember 2013 pukul 23.59! Ini menjadi kesempatan bagi Sobat YIFoS untuk turut terlibat aktif dalam merubah tatanan yang cenderung patriarkis dan heteronormatif.

Formulir bisa diunduh di posting  Pendaftaran Anggota YIFoS dan dikirimkan ke
yifos.indonesia@gmail.com

Sobat YIFoS͵ tidak ada perubahan yang terjadi seketika. Ia berproses dan tak bisa berjalan sendirian. Senantiasa saling menopang dan menguatkan. Hingga di penghujung tahun 2013 ini, masih saja banyak terjadi stigmatisasi, kekerasan dan kejahatan berbasis kebencian hanya karena iman maupun seksualitas yang berbeda. Bagi sebuah komunitas yang memiliki kesadaran akan pentingnya menjunjung kesetaraan dan perdamaian, mari memulai!
Karena kamu adalah bagian dari sejarah tersebut.

Salam keberagaman!

Pendaftaran Anggota YIFoS

“Never doubt that a small group of thoughtful committed citizens can change the world; indeed, it’s the only thing that ever has”. (Margaret Mead)

Berawal dari komunitas pada Maret 2010, YIFoS secara berkala membuka ruang-ruang diskusi mengenai seksualitas dan keimanan di berbagai tempat, yakni komunitas muda iman di sekitar DIY dan Jawa Tengah, seperti Solo, Semarang, Salatiga dan Yogyakarta. Sebuah optimisme terbangun; bahwa mendialogkan iman dan seksualitas adalah mungkin.

Dari diskusi berkala yang telah diadakan, YIFoS berefleksi bahwa membangun pemahaman yang integral terhadap keragaman identitas iman dan seksual tidak bisa dilakukan dalam beberapa jam saja. Oleh karena itu, tahun 2011 menjadi momen untuk merumuskan platform dialog anak muda yang komprehensif; tidak hanya sekedar bertukar pengetahuan, namun juga saling berinteraksi serta bekerjasama untuk merayakan keragaman di komunitas dan publik yang lebih luas.

Young Queer Faith and Sexuality Camp hadir di tahun 2012 dan 2013 sebagai platform dialog yang diadakan setiap tahun. Sampai saat ini sudah ada 81 peacemakers yang telah mengikuti Young Queer Faith and Sexuality Camp.

Dalam tiga tahun terakhir ini, YIFoS telah bermitra dengan ± 50 institusi/organisasi di berbagai bidang dan beragam peran untuk mendukung program kerja YIFoS. Transformasi YIFoS dari komunitas ke organisasi mendorong YIFoS untuk merekam jejak dan sejarah, menyusun Anggaran Dasar/Anggaan Rumah Tangga serta program kerja secara berkala

Di penghujung tahun 2013 ini, dalam rangka memaksimalkan pengembangan kapasitas anggota YIFoS dan pendataan anggota, YIFoS membuka pendaftaran anggota bagi para peacemakers yang pernah terlibat dalam Young Queer Faith and Sexuality Camp, baik di tahun pertama maupun kedua. Ini menjadi kesempatan bagi peacemakers untuk terlibat aktif dalam membangun perdamaian dalam keragaman identitas iman dan seksual di Indonesia.

Pendaftaran dibuka sejak 10 Desember 2013 hingga 29 Desember 2013. Peacemakers cukup mengirimkan form keanggotan YIFoS yang telah diisi melalui e-mail yifos.indonesia@gmail.com selambatnya pukul 23.59.

Mari menjadi bagian dari ger\akan anak muda yang merayakan keragaman identitas seksual dan iman tanpa cara kekerasan! Selamat datang di Rumah YIFoS

Form Anggota YIFoS

Perayaan Hari HAM – Perayaan atas Kemerdekaan Identitas Diri

Pernyataan Sikap

YOUTH INTERFAITH FORUM ON SEXUALITY (YIFoS)

“Perayaan Hari HAM –
Perayaan atas Kemerdekaan Identitas Diri”

10 Desember 2013

Hak Asasi Manusia (HAM) dipahami sebagai hak yang melekat pada individu semenjak dilahirkan terlepas apapun identitas yang melekat di dirinya. Deklarasi Universal HAM (DUHAM) yang diproklamirkan pada 10 Desember 1948 menjadi dasar pemenuhan HAM di segala bidang kehidupan; dan momentum bersejarah ini menjadi tonggak pergerakan para aktivis HAM di seluruh tempat untuk mewujudkan penghapusan segala bentuk perbudakan, penindasan, kekerasan, pelecehan dan diskriminasi. Oleh karena itu, setiap tanggal  10 Desember diperingati sebagai Hari HAM se-dunia – termasuk di Indonesia.

Indonesia yang telah meratifikasi delapan dari sembilan pokok perjanjian HAM internasional, seharusnya tidak berhenti pada proses tersebut, namun juga harus mengintegrasikannya ke dalam hukum nasional maupun berbagai peraturan daerah lainnya. Semua peraturan tersebut seharusnya dapat menjamin setiap warga negara untuk mendapatkan pemenuhan atas HAM terlepas dari apapun identitas yang melekat pada dirinya, termasuk identitas iman dan identitas seksual.

Sangat disesalkan bahwa tindak pelanggaran HAM masih terus terjadi, mulai dari pembatasan akses, kekerasan, pelecehan, penelantaran dan diskriminasi kepada individu dengan identitasnya. Temuan Komnas Perempuan  menggambarkan adanya peningkatan sebesar 21% di tahun 2013 dari 282 peraturan daerah yang diskriminatif;  dan sebesar 77% mengarah pada diskriminasi terhadap perempuan. Sepanjang 2013, Indonesia juga menorehkan serangkaian peristiwa diskriminatif terhadap identitas iman warga negaranya; jemaah Ahmadiyah dan juga Syiah yang terpaksa keluar dari lingkungannya, pemberlakukan UU Adminduk yang tidak mengakomodir kolom kepercayaan bagi para penghayat maupun penganut agama lokal. Pada saat yang lain, identitas seksual diluar heteroseksual masih menjadi basis bagi perlakuan maupun ungkapan kebencian, mulai dari pernyataan stigmatif dari Ketua Komnas Perlindungan Anak terhadap kelompok lesbian; pengusiran paksa oleh masyarakat atas pasangan lesbian dari rumahnya sendiri di Batam; pengusiran seorang aktivis dari sebuah klub malam karena ia transgender; atau seorang prajurit TNI yang dikeluarkan karena diduga gay. Cerita ini menjadi catatan hitam tersendiri bagi Indonesia yang sebentar lagi akan merayakan pesta demokrasi di tahun 2014.

Argumentasi agama versus HAM kerapkali digaungkan untuk mengkriminalkan orang-orang dengan identitas iman dan seksual yang berbeda tanpa mempertimbangkan bahwa setiap agama memang sudah sepatutnya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan tidak mengurangi hak yang dimiliki oleh setiap individu. Youth Interfaith Forum on Sexuality (YIFoS) berpandangan bahwa setiap orang berhak merayakan kemerdekaan atas  identitas yang melekat pada dirinya. Oleh karenanya, dalam rangka peringatan Hari HAM se-dunia dan puncak perayaan Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Youth Interfaith Forum on Sexuality (YIFoS) menyatakan:

  1. MENOLAK segala bentuk diskriminasi dan kriminalisasi karena identitas yang melekat pada setiap orang, termasuk identitas iman dan identitas seksual, baik yang terjadi di ranah personal, komunitas maupun negara;
  2. MENDUKUNG pelibatan anak muda dalam segala tingkatan pengambilan keputusan termasuk akses untuk mendapatkan informasi yang komprehensif tentang seksualitas;
  3. MENDORONG pemerintah untuk menjamin perlindungan dan pemenuhan akses ekonomi, pendidikan, sosial, budaya, dan politik, tanpa memandang orientasi seksual, identitas gender maupun identitas iman yang melekat pada diri setiap orang

Selamat Merayakan Hari HAM se-dunia.
Selamat berpesta atas identitas yang dimilikinya!

Kontak Person
VK Larasati – 0813 2219 7685

Audiensi Forum LGBTIQ Indonesia dan Komnas HAM

Jakarta, 22 November 2013. Forum Lesbian Gay Biseksual Transgender/Transeksual Interseks dan Queer (LGBTIQ) Indonesia kembali mengadakan audiensi dengan salah satu lembaga nasional HAM di Indonesia, yakni Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Forum LGBTIQ Indonesia merupakan forum yang terdiri dari 30 organisasi LGBT serta yang mendukung isu LGBT yang terbentuk pada 2010. Pertemuan ini berlangsung di Ruang Pleno Lantai 3 Kantor Komnas HAM di Jl. Latuharhari No. 4B pada pukul 11.00 sampai pukul 13.00

Beberapa perwakilan organisasi dan komunitas dari Forum LGBTIQ Indonesia yang hadir, yakni Ardhanary Institute, Arus Pelangi, Forum Komunikasi Waria, Youth Interfaith Forum on Sexuality, Best Famz Family, Yayasan Intermedika, dan Talitakum; diterima oleh Siti Noor Laila, Ketua Komnas HAM.

Siti Noor Laila menjelaskan bahwa sejak bulan Juni 2013, Lesbian Gay Biseksual Transgender/Transeksual (LGBT) telah menjadi bagian dari pembahasan dalam sidang paripurna Komnas HAM. Hasil Paripurna tersebut adalah Komnas HAM berkomitmen untuk juga melakukan pembelaan terhadap LGBT seperti yang telah disebutkan dalam Resolusi PBB mengenai Sexual Orientation and Gender Identity (SOGI) dengan berfokus pada perlindungan terhadap kekerasan dan diskriminasi. Ia pun menambahkan bahwa Komnas HAM memiliki mekanisme tersendiri terkait dengan isu ini, yakni melalui Pelapor Khusus LGBT.

Forum LGBTIQ Indonesia pun menyoroti kembali tentang Dialog Nasional yang terselenggara di Bali pada Juli 2013 lalu, dimana United Nations Development Programme (UNDP) memfasilitasi pertemuan antara organisasi dan komunitas LGBT, praktisi pluralisme dan HAM, akademisi, lembaga HAM nasional serta pemerintah. Hasil pertemuan tersebut menghasilkan serangkaian rekomendasi terkait dengan pemenuhan dan perlindungan terhadap LGBTI. Beberapa hal yang disampaikan oleh Forum LGBTIQ Indonesia adalah terkait dengan pengakuan keberadaan LGBTI di hadapan hukum, pengintegrasian perspektif SOGIE (Sexual Orientation and Gender Identity and Expression) di berbagai kementerian dan lembaga dalam rencana strategis 2015-2019, serta pelibatan organisasi LGBTI dalam berbagai diskusi terkait dengan pembuatan keputusan terkait HAM.

Di akhir pertemuan, Siti Noor Laila menyambut baik rencana pembentukan MoU (Memorandum of Understanding) antara Komnas HAM dan Forum LGBTIQ Indonesia dalam rangka pemenuhan dan perlindungan HAM LGBTI. Ia pun mendorong agar organisasi-organisasi LGBT terus melakukan upaya hukum dalam memperjuangkan kesetaraan sebagai bagian dari advokasi dan kampanye dalam rangka memberikan pemahaman kepada negara mengenai hak-hak LGBTI. (Edith, @Queer_in_life)

Pertemuan Jaringan Anak Muda

DSC01966

Jumat, 8 November 2013 – Dua belas organisasi anak muda (baik yang dipimpin oleh anak muda maupun yang fokus pada pemenuhan hak pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual (PKRS) bagi anak muda berkumpul di Hotel All Seasons͵Jakarta; untuk berpartisipasi dalam Pertemuan Jaringan Anak Muda yang difasilitasi Pamflet. Organisasi-organisasi tersebut adalah Fokus Muda, GWL (Gay Waria LSL) Muda, Centra Mitra Muda (CMM) Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI Jakarta), Youth Forum DIY, Aliansi Remaja Independen (ARI), GueTau.com, Rahima, Ardhanary Institute, Pusat Kajian Gender dan Seksualitas UI, Aliansi Mahasiswa Indonesia Peduli Kesehatan Reproduksi dan Seksual (AMIPERS) serta YIFoS sendiri. Pertemuan Jaringan Anak Muda ini merupakan langkah awal dari kepedulian semua organisasi yang hadir membangun kerjasama terkait dengan isu advokasi

 Sesi awal dibuka dengan presentasi dari setiap organisasi mengenai fokus isu advokasi, sasaran, keberhasilan, hambatan serta strategi ke depan yang akan ditempuh. Dari hasil pemaparan terungkap berbagai fokus isu, yakni peningkatan kesadaran dan penguatan terhadap pengetahuan terkait seksualitas dan otoritas tubuh di kalangan komunitas muda iman, Lesbian-Gay-Bisexual-Transgender/Transeksual (LGBT) dan Laki-Laki Seks Laki-Laki (LSL) muda, pe-integrasian HIV dengan kekerasan berbasis gender, mendorong PKRS dalam kurikulum nasional, penyediaan layanan kesehatan produksi (kespro) yang ramah remaja, peningkatan kesadaran dan perspektif SOGI dan sosialisasi Priawan kepada komunitas dan masyarakat luas, peningkatan usia perkawinan bagi laki-laki dan perempuan serta jaminan hak pendidikan bagi siswi yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Selain itu, terungkap juga berbagai tingkat advokasi, yakni mulai dari komunitas; khususnya terkait dengan pelibatan anak muda dalam pengambilan keputusan, media massa yang merupakan pembentuk opini publik hingga perubahan kebijakan, baik secara nasional (undang-undang) maupun peraturan di kementerian/lembaga pemerintah.

Dari berbagai fokus isu advokasi yang disampaikan, setiap organisasi memilih tiga isu prioritas advokasi. Melalui proses tersebut terpetakanlah tiga isu besar, yakni

  1. kemitraan setara anak muda dan orang dewasa,
  2. pemenuhan layanan kespro yang ramah remaja dan
  3. pemenuhan PKRS.

YIFoS bekerja dalam dua isu͵ yakni poin pertama dan ketiga dimana terkait dengan pemenuhan PKRS tidak bisa luput dari elemen SOGI (Sexual Orientation and Gender Identity) sebagai bagian yang terintegrasi.

Setiap isu dibahas dalam kelompok kecil yang terdiri dari organisasi-organisasi yang memiliki fokus kerja advokasi yang serupa. Setiap kelompok merumuskan tujuan advokasi dari isu yang dibahas, institusi yang disasar serta pemetaan mitra strategis yang mendukung, berpengaruh serta perlu dikuatkan dalam mencapai tujuan advokasi tersebut. Ketiganya komponen ini dirumuskan dengan pertimbangan bahwa advokasi disasar pada level nasional.

Dari hasil diskusi kelompok, terdapat rumusan tujuan advokasi sebagai berikut :

  • Tentang kemitraan setara anak muda dan orang dewasa. Tersedianya mekanisme pelibatan anak muda di tingkat komunitas͵ ruang publik (media massa) serta kebijakan sehingga dapat diakses oleh anak muda dari identitas yang beragam.
  • Tentang pemenuhan PKRS. Masuknya CSE (Comprehensive Sexuality Education) ke dalam sistem pendidikan nasional
  • Tentang layanan kespro ramah remaja. Tersedianya layanan kesehatan seksual & reproduksi yang komprehensif dan ramah

Pertemuan Jaringan Anak Muda ini diakhiri dengan beberapa kesepakatan terkait dengan mekanisme koordinasi, yakni penting untuk membuat media komunikasi online agar dapat saling bertukar informasi, diadakan pertemuan setiap 6 bulan untuk membahas perkembangan dari kerja-kerja advokasi, serta pengawalan secara rotatif terhadap tiga tujuan advokasi yang telah dirumuskan oleh organisasi yang memiliki fokus kerja yang serupa. Organisasi-organisasi tersebut adalah YIFoS, Pamflet dan GWL Muda Ina untuk isu kemitraan setara anak muda dan orang dewasa; Youth Forum DIY, dan ARI untuk pemenuhan PKRS; CMM PKBI, Ardhanary Institute dan ARI untuk pemenuhan layanan kespro ramah remaja. (Edith/10.11.13)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,140 other followers