07.03.2010 – 07.03.2013

Image

3 years already,
journey to build peace through diverse identities
with sharing experiences and knowledge
strengthen each other
to create environment with better understanding of diversity

3 years already,
it’s not an easy journey
full ups and down
where commitment become the reason to stay
and priority become the reason to leave
but dream for a better world for peace through diversity
always be tied us in one chain

3 years already,
will not stop today cause we are moving forward
with all of your contribution
shape our dream to be reality
a better understanding of diverse sexual and faith identities
so, there will be peace among us

Feliz Cumpleaños Youth Interfaith Forum on Sexuality (YIFoS)

 

 

[reflection 07.03.2010 - 07.03.2013]
dedicated to founder, crew, member, and all peacemaker
Viva La Vida !!!

Training of Trainer Pengorganisasian LBT

Hi Peacemaker!!
Admin datang lagi dengan membawa cerita dari salah satu pengurus YIFoS, Yulia Dwi Andriyanti yang akrab disapa dengan Edith, mengikuti pelatihan terkait Training of Trainer Pengorganisasian LBT (Lesbian, Biseksual dan Transgender) yang diselenggarakan di oleh Ardhanary Institute (AI). Kegiatan yang berjalan dari 10-12 Oktober 2012, menjadi sarana bertemunya berbagai komunitas dan organisasi LBT dari berbagai provinsi di Indonesia͵ baik peningkatan keterampilan fasilitasi maupun membangun solidaritas sebagai LBT yang akan berperan menggerakkan komunitas. Kegiatan ini diadakan di Wisma Hijau, Depok.

Mari kita simak bersama yuk pemaparan hasil kegiatannya :-)

Para peserta datang sehari sebelum kegiatan. Aktivitas dimulai dengan saling berkenalan͵ menetapkan kontrak belajar dan juga melakukan pembagian tugas selama pelatihan berlangsung͵ yakni tim review materi͵ tim time keeper dan juga tim ice breaking. Perwakilan komunitas dan organisasi beragam. Ada yang bergerak pada penguatan kapasitas individu LBT͵ seperti Gendhis (Lampung)͵ Talitakum (Solo)͵ Gamacca (Makassar)͵ Dipayoni (Surabaya) yang bergerak di ranah advokasi LGBT seperti PLU Satu Hati (Yogyakarta); dan juga yang memiliki persinggungan dengan isu lain͵ seperti Kipas (Makasar) dan Effort (Semarang) dengan isu buruh͵ Rumah Belajar  Pluralisme (Medan) dengan isu pluralisme serta Youth Interfaith Forum on Sexuality dengan isu lintas iman. Keberagaman arah komunitas dan organisasi ini menjadi sarana untuk membangun komunitas LBT yang tidak hanya mampu menguatkan komunitas͵ melainkan juga berkontribusi dalam perubahan sosial.

Pada permulaan hari͵ Lily Sugianto dari AI mengajak peserta mereview konsep seks dan gender biner yang berkembang dimasyarakat; seks yang terdiri dari penis dan vagina serta gender yang terdiri dari perempuan dan laki-laki. Konsep seks dan gender yang biner inilah yang membuat keberadaan seks dan gender selainnya dianggap tidak ada ataupun ditiadakan. Melalui diskusi kelompok kecil͵ peserta diajak untuk merumuskan kembali tentang definisi seks dan gender yang mampu mengakomodir keberadaan waria͵ priawan͵ interseks͵ perempuan tomboy͵ laki-laki kemayu͵ biseksual dan homoseksual. Dari hasil diskusi kelompok dan panel͵ didapatkan poin-poin penting mengenai konsep seks dan gender yang non biner͵ yakni :

  • Seks bersifat biologis͵ terdiri dari alat kelamin͵ kromosom dan hormon͵ berfungsi untuk prokreasi dan rekreasi͵ dan dapat dirubah
  • Gender bersifat sosial (dikonstruksi oleh masyarakat)͵ terdiri dari peran͵ penghayatan diri͵ dan dapat dirubah.

Diskusi berlanjut pada konsep keragaman gender dan seksual. Terkait dengan ini͵ terdapat beberapa aspek yakni orientasi seksual serta ekspresi gender. Orientasi seksual adalah kepada siapa seseorang tertarik secara fisik͵ emosional͵ baik terhadap seks biologis dan/atau gendernya;  bisa homoseksual (seks biologis/gendernya sama) ͵ heteroseksual (seks. biologis/gender berbeda) dan biseksual (terhadap seks biologis/gender yang sama dan berbeda). Sementara ekspresi gender adalah bagaimana seseorang mengekspresikan dirinya berdasarkan kualitas feminin dan maskulinnya. Orientasi seksual tidak ada kaitannya dengan ekspresi gender. Ini berarti bahwa tidak semua perempuan maskulin serta merta adalah lesbian; bisa juga berarti bahwa tidak semua priawan adalah heteroseksual.

Setelah memahami tentang konsep seks dan gender͵ peserta diajak untuk membahas tentang berbagai bentuk ketidakadilan gender – sebagai konsekuensi dari pemahaman seks dan gender yang biner – di berbagai ranah kehidupan͵ yakni :

  • Stereotipe͵ yakni pelabelan.
  • Subordinasi͵ yakni penomorduaan.
  • Kekerasan͵ berupa pskis (verbal)͵ fisik͵ ekonomi dan seksual
  • Beban ganda
  • Stigmatisasi
  • Marjinalisasi

Akhir sesi di hari pertama ditutup oleh Agustine dari AI tentang bagaimana peserta bisa memahami Yogyakarta Principles sebagai instrumen vokasi terhadap komunitas LGBTIQ. Yogyakarta Principles merupakan instrumen hukum internasional yang disusun oleh ahli hukum dan ham mengenai perlindungan terhadap orang-orang dengan orientasi aekaual dan gender identity yang berbeda. Instrumen ini disusun di Yogyakrta pada tahun 2006. Meskipun belum diratifikasi͵ menjadi penting bagi organisasi LBT untuk menggunakan instrumen hukum ini sebagai landasan dalam melakukan advokasi maupun peningkatan kesadaran tentang perlindungan terhadap hak-hak LGBTIQ.

Di hari kedua͵ peserta berdiskusi bersama Khoirul Anam dari Human Right Working Group tentang SOGI (Sexual Orientation and Gender Identity) dan instrumen ham. Terdapat prinsip utama dalam ham͵ yakni:

  • Non diskriminasi
  • Anti kekerasan
  • Universal
  • Keadilan

Terkait dengan ham͵ negara memiliki kewajiban untuk melindungi (hadir dan bertindak ketika terjadi pelanggaran)͵ Menghormati ( tidak intervensi terhadap integritas personal)͵ dan memenuhi (mengimplementasi mekanisme ham hingga tingkat yang paling kongkrit).

Yang dimaksud dengan pelanggaran ham adalah

  • By act͵ yakni dilakukan secara aktif oleh negara͵ termasuk melalui kebijakan
  • By ommission͵ yakni melakukan pembiaran

Dalam kaitannya dengan konteks kebebasan beragama terdapat dua hal͵ yakni :

  • Forum eksternum (tata cara beribadat) dimana negara masih boleh mengatur
  • Forum internum (ekspresi iman) dimana negara tidak boleh mengatur.

Sesi berlanjut pada bedah pengalaman pengorganisasian dari masing-masing komunitas untuk menganalisis metode dan tantangan yang dihadapi. Beberapa hasil diskusi yang didapat adalah :

  • Untuk pengorganisasian LBT yang bekerja sebagai buruh͵ metode diskusi yang firmal akan sulit dilakukan͵ mengingat jam kerja yang berbeda sehingga terkadang ketika disjkusi diadakan hanya beberapa orang sja yang hdir untuk itu͵ organiser harus siap dengan diskusi informal.
  • Membentuk LBT crisis centre sebagai sarana penguatan individu LBT dalam menghadapi tantangan yang dihadapi di lingkungan sekitarnya.
  • Membuat antologi cerpen LBT sebagai sarana bagi LBT untuk bercerita tentang dirinya
  • Mengadakan kemah pemuda untuk membangun pengertian antara kelompok LGBTIQ dan kelompok iman
  • Menjadikan tempat usaha͵ yakni angkringan͵ sebagai media pertukaran informasi terkait seksualitas

Setelah peserta melakukan analisis metode pengorganisasian͵ Masruchah͵ Sekjen Komnas Perempuan͵ memandu sesi tentang pendidikan kritis. Pendidikan kritis mendorong peserta menjadi subjek͵ bukan objek. Materi pendidikan berasal dari realitas atau pengalaman. Hal ini akan mendorong proses yang dialogis karena tidak ada peran guru dan murid.

Dalam memandu agar proses pendidikan kritis͵ maka penting untuk mengetahui daur belajar pengalaman yang terstrukturkan. Hal ini terdiri dari :

  • Melakukan; melalui peengalaman maupun peristiwa yang dimunculkan lewat cerita͵ studi kasus͵ permainan dan media lain
  • Mengungkap data; menyatakan kembali apa yang telah dialami melalui tanggapan dan kesan terhadap pengalaman tersebut
  • Menganalisa
  • Menyimpulkan
  • Menerapkan kembali lagi ke melakukan͵ dst

Pemahaman mengenai proses pendidikan kritis ini menjadi panduan bagi para peaerta ketika melakukan proses memfasilitasi sebagai bentuk dari upaya pengorganisasian bagi komunitasnya serta perubahan sosial. Di hari terakhir͵ para peserta melakukan praktek fasilitasi sebagai sarana untuk mengaplikasikan pengetahuan yang telah didapat pada dari hari-hari sebelumnya.

(Yulia Dwi Andriyanti,  @Queer_in_life)

Tetap simak terus postingan-postingan di blog YIFoS, untuk tahu informasi ter-update dari setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh YIFoS.

Salam Damai dalam Keberagaman :-)

Mari Bicara Tentang Kelamin!

Dear Peacemaker,

Sepertinya, Anam, koordinator LitBang YIFoS ini memang paling aktif menulis dan berbagi pengalaman. Buktinya, hari ini kembali kita bisa menikmati tulisannya yang ‘lain’.

Anam kali ini mengajak kita berbicara tentang kelamin dan kepentingannya. Sekilas, tulisan ini mengingatkan kita pada satu teori dari Judith Butler, Gender as Performance. Sederhananya Butler berpikir bahwa gender berada pada dua level. Pertama level ide yang kemudian kita sebut sebagai sebuah kontruksi, dan kedua pada level performance yaitu bagaimana seseorang ‘menyatakan’ gendernya – laki-laki; perempuan; lesbian; gay; transgender; biseksual, queer, dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana relasi gender dan kelamin? Barangkali tulisan ini dapat memberi kita sedikit pencerahan.

Kelamin dan Kepentingan Tak Bercermin

Menjadi laki-laki, perempuan, atau bahkan bukan dua-duanya merupakan sebuah pilihan (dan tentu saja perjuangan) yang tidak berdasarkan pada kelamin apa yang menempel pada tubuh seseorang. Bisa saja orang dengan alat kelamin penis dapat mengklaim dirinya sebagai perempuan, dan begitu juga sebaliknya. Karena kelamin bukan saja tentang jenis apa yang ‘tiba-tiba’ nempel tanpa stempel di tubuh, tetapi lebih kepada bagaimana si pemiliki tubuh tersebut perform atas tubunya secara keseluruhan. Topic ini menjadi salah satu bahasan utama yang kami bahasa bersama dalam diskusi bersama teman-teman mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Mathali’ul Falah, Pati, Jawa Tengah, pada 28 November 2012 lalu. Bekerjasama dengan Aliansi Remaja Independen (ARI) Pati, saya berkesempatan untuk bertatap muka dan berbagai beberapa hal yang terkait dengan seksualitas, agama dan kepemudaan.

Acara diawali dengan pemutaran dua film dari Perempuan Punya Cerita sebagai langkah awal untuk memberikan gambaran tentang rancu dan berantakannya pemahaman sebagaian besar masyarakat terhadap seksualitas dan peran gender. Diskusi yang dihadiri oleh kurang lebih 30an mahasiswa ini mencoba untuk membongkar pemahaman klasik nan sempit masyarakat secara umum tentang polarisasi pembagian peran gender. Polarisasi itu adalah perempuan yang masih terlalu sering diindentikkan dengan kaum lemah dan laki-laki yang masih juga dipercaya sebagai golongan yang tegap nan kuat.

Dengan didampingi oleh Adiningtyas sebagai narasumber kedua, kami saling bahu membahu untuk membuka wacana bahwa peran gender nyaris tidak ada hubungannya sama sekali dengan alat kelamin, dengan kata lain, tidak selalu orang yang memiliki vagina adalah orang yang pasti lebih lemah jika dibandingkan dengan orang-orang yang ‘kebetulan’ memiliki penis. Mengapa kebetulan? Tentu hal ini dikarenakan tidak seorangpun dari kita yang memiliki kesempatan untuk ditanyai Tuhan; “hei, mau kelamin apa kamu?”. Adalah konstruksi sosial, termasuk agama dan sistem pendidikan, yang membuat penis lebih ‘membahana’ dibanding vagina.

Diskusi berjalan berjalan lancer dengan beberapa kali terlontar pertanyaan dan tanggapan dari para peserta diskusi yang terlihat begitu antusias dengan tema yang kami usung bersama. Ya, tema tentang seksualitas masih menjadi salah satu tema yang dipandang tabu untuk dibicarakan, apalagi untuk diperdebatkan, namun demikian tema ini harus tetap dibahas dengan baik sebagai upaya untuk mengurangi (dan bahkan menghapus sama sekali) diskriminasi dan ketidaksetaraan yang berbasis pada seksualitas seperti yang terjadi selama ini.

Beberapa istilah dalam seksualitas masih pula dianggap sebagai hal yang ‘kurang sopan’ untuk dibicarakan, oleh karenanya istilah penis sering diganti dengan ‘burung’, sementara istilah untuk vagina kerapkali ditumpang tindihkan dengan istilah ‘siput’. Hal mana yang justru merupakan pembodohan, sebab alat kelamin jelas begitu berbeda baik secara bentuk maupun fungsi dengan binatang-binatang yang namanya dicomot begitu saja untuk ‘mensopankan’ istilah seksual ini.

Oleh karenanya perlu bagi kita semua untuk bersama-sama mengoreksi pola pikir kita selama ini terhadap isu-isu seputar seksualitas, karena jangan-jangan, ada banyak sekali kepentingan yang turut bermain dalam proses pengkelaminan tubuh. Nah lo! Yuk terus belajar biar kita tidak mudah terkapar!

Salam penuh cinta dari Yogya, Anam.

 

Catatan dari Mesir: Sejarah dan Tantangan Advokasi Internasional Hak Seksual

Peacemaker yang budiman,

Beberapa waktu lalu, Sekretaris Nasional YIFoS, Yulia Dwi Andriyanti yang biasa disapa Edith, berkesempatan melakukan kunjungan ke Mesir dalam rangka mengikuti 5th CSBR Sexuality Institute 2012 yang diselenggarakan oleh Coalition on Sexual and Body Rights for Muslim Societies.

Untuk itu Edith ingin berbagi pengalamannya dalam tulisan berikut ini.

 

Sejarah dan Tantangan Advokasi Internasional Hak Seksual

Di salah satu sesi yang saya ikuti dari proses pembelajaran di CSBR (Coalition on Sexual and Body Rights) for Muslim Societies adalah mengenai advokasi internasional mengenai hak seksual dimulai dan berkembang. Hal ini menarik untuk dibahas karena akan membawa kita untuk menelusuri tentang anggapan yang muncul bahwa perjuangan hak seksual identik dengan nilai dan budaya ‘Barat‘ dan serta merta bertentangan dengan budaya ‘Timur‘ yang lekat dengan nilai religius dan moral.

Terbukanya ruang untuk membahas isu terkait dengan keamanan manusia bukan lagi menengenai keamanan negara dimulai pada era 1990an dimana PBB mulai mengadakan berbagai konferensi internasional. Melalui konferensi internasional membuat berbagai kelompok masyarakat sipil berpartisipasi dalam membentuk taaanan tertentu di level internasional.

Advokasi hak seksual dimulai pada Konferensi Dunia tentang Hak Asasi Manusia di Vienna pada 1993. Ini merupakan instrumen internasional pertama mengenai hak asasi manuaia yang mereferensikan secara eksplisit terkait seksualitas. Deklarasi Vienna seeya Programme of Action diadopsi secara konsensus di konferensi tersebut. Dalam deklarasi ini meminta negara-negara untuk menghapuskan kekerasan berbasis gender dan segala bentuk pelecehan seksual dan eksploitasi (paragraf 18) termasuk perdagangan perempuan perkosaan sebagai senjata perang dan kehamilan yang dipaksakan (paragraf 38).

Setahun kemudian ide tentang hak seksual pertama kali muncul awbagai agenda internasional selama persiapan International Conference on Population and Development (ICPD) PBB yang diadakan di Kairo. Namun istilah hak seksual ini tidak mencapai konsensus akhir dalam dokumen konferensi yakni ICPD Programme of Action (PoA). Konsensus yang diterima adalah istilah ’hak-hak reproduksi’ sementara istilah ‘hak-hak seksual’ dianggap memprovokasi dan menghasilkan banyak kontroversi.

Meskipun begitu ICPD PoA memuat poin-poin penting mengenai gender dan seksualitas. Salah satunya adalah mengakui keterkaitan antara gender dan seksualitas dengan dinyatakan sebagai berikut: ‘Human sexuality and gender relation are closely interrelated and together affect the ability of men and women to achieve and maintain sexual health and manage their reproductives lives’.

Perkembangan signifikan lain dalam ICPD PoA adalah untuk pertama kalinya disebutkan bahwa tidak hanya keamanan͵ kesehatan dan kesetaraan merupakan hal relevan terkait seksualitas melainkan juga menegaskan bahwa seks juga bersifat memuaskan. Hal ini dinyatakan dalam paragraf 7.2 sebagai berikut ‘Reproductive health is a state of complete physical mental and social well being and not merely the absence of disease or infirmity… Reproductive health therefore implies that people are able to have a satisfying and safe sex life and that they have the capability to reproduce and freedom to decide if͵ when and how often to do so… it also includes sexual health  the purpose of which is the enchancement of life and personal relation…

Pada tahun 1995 hak-hak seksual kembali menjadi topik peedebatan utama pada Konferensi Dunia tentang Perempuan di Beijing. Aliansi dari delegasi Muslim dan Katolik konservatif dengan tegas menolak istilah tersebut. Seksualitas khusuanya orientasi seksual kontrol perempuan terhadap tubuh serta aborsi menjadi isu kontroversi dalam konferensi tersebut. Berkebalikan dari sorotan pers dan delegasi oposisi advokasi terkait hak seksual ini datang dari para feminis nagara-negara Selatan. Sebagai hasilnya paragraf 96 berikut ini disimpulkan dalam Beijing Platform of Action: ‘The human rights of women include their right to have control over and decide freely and responsibly on matters related to their sexuality including sexual and reproductive health free of coercion discrimination and violence. Equal relationships between women and men on matters of sexual relations and reproduction including full respect for the integrity of the person require mutual respect consent and shared responsibility for sexual behavior and its consequences.

Kemunculan gerakan perempuan nasional serta proses lobi terhadap delegasi formal berpern penting dalam mengubah perilaku dari negara tertentu. Ini ditunjukkan dalam Konferensi Beijing+5 pada tahun 2000 dimana Turki sebagai negara yang didominasi Muslim menjadi pendukung hak-hak seksual untuk pertama kali dan memegang peran penting terhadap inklusi terkait dengan perkosaan dalam pernikahan kejahatan atas nama kehormatan (honour crime) dan pernikahan paksa menjadi hasil dari dokumen ini.

Sejalan dengan perkembangan politik khususnya terkait dengan ketegangan antara dunia Muslim dan Barat paska serangan teror 9/11 dan invasi besar-besaran ke Irak berdampak pada perseteruan terhadap perjuangan hak seksual dan kesetaraan gender. Salah satunya adalah munculnya pandangan bahwa hal seksual bukan meeupakan bagian dari budaya negara-negara Muslim serta negara-negara Selatan. Hal ini ditunjukkan mulai dari legitimasi sunat perempuan sebagai bagian dari tradisi Islam hingga anggapan bahwa homoseksualitas merupakan praktik yang diimpor dari ‘Barat’.

Sejak tahun 2001 tantangan tidak hanya berasal dari kelompok agama konservatif melainkan juga melalui administrasi pemerintahan Amerika Serikat – yang kerapkali dianggap sebagai perwakilan ‘Barat’ – yang berlawanan dengan hak perempuan serta hak reproduksi ikut menentukan perjanjian yang dibuat di berbagai konferensi internasional. Hal ini terlihat dalam bagaimana administrasi Bush mengatur pemberian dana terkait HIV/AIDS. Untuk menerima dana tersebut organisasi harus memenuhi persyaratan yakni menerapkan strategi ABC (Abstain Be faithful use Condoms) dengan 33% dana dipakai untuk mempromosikan abstinen sebelum pernikahan mengutuk prostitusi serta ’Global Gag Rule’ (organisasi yang menyediakan layanan aborsi atau informasi tentang layanan aborsi tidak akan menerima dana).

Sejarah advokasi internasional terhadap hak seksual menunjukkan bahwa tantangan serta oposisi tidak mengenal konteks ‘Barat’ dan ‘Islam’ maupun negara Selatan dan Utara melainkan terkait dengan bagaimana negara dan agama menunjukkan kontrolnya terhadap tubuh dalam rangka legitimasi kekuasaan͵ baik sebagai entitas yang ‘beradab’ maupun ‘bermoral’.

 

IDENTITAS DAN RUANG

Peacemaker,

Perdebatan mengenai identitas tampaknya memang tak akan pernah selasai. Kompleksitas isu dan wacana ke-identitas-an yang terus berkembang dan beririsan dengan pelbagai ‘cerita’ lainnya terus bergulir menjadi tema yang ‘menjual’ dalam berbagai diskusi, seminar, dan bahkan dalam majalah dan tabloid populer. Tapi bagaimanapun juga, identitas adalah milik kita, di mana kita berhak menyatakan diri meski tak pernah bebas dari kritik dan refleksi.

Mari simak buah pikir Anam dalam artikel “Bergulat dengan Identitas di Ruang Tanpa Batas” dan mari berefleksi!!

Identitas merupakan fase yang berfungsi untuk memberikan perbedaan antara satu manusia dengan manusia lainnya. Meski untuk beberapa hal, identitas juga dapat difungsikan kepada benda mati atau suatu fenomena tertentu. namun demikian, identitas ‘hanyalah’ sebuah fase dalam arti bahwa ia bukanlah sesuatu yang ajeg stagnan tanpa ada perubahan, karena identitas justru dapat berubah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan. Bikhu Parekh misalnya, berargumen bahwa identitas memiliki tiga dimensi yang meski berbeda, namun saling berhubungan. Yakni; identitas personal, identitas sosial, dan identitas kemanusiaan. Pada dimensi personal, Parekh menyatakan bahwa manusia sebagai seorang individu adalah sepenuhnya unik, memiliki perbedaan dengan manusia lainnya. Sementara dalam dimensi sosial, manusia digambarkan sebagai bagian dari lingkaran sosial, menjadi anggota dari kelompok budaya, agama, dan kelompok-kelompok lainnya dimana manusia mencitrakan diri mereka sendiri, namun sekaligus juga dicitrakan oleh orang lain. Dimensi terakhir adalah dimensi kemanusiaan dimana manusia mengidentifikasi diri mereka sebagai makhluk yang berbeda dengan makhluk lainnya. (Parekh, 2008; 9)

Pun demikian, ketiga dimensi tersebut dapat dijamah dalam waktu yang besamaan, karena seorang individu adalah anggota dari berbagai jenis kelompok. Amarty Sen memberi contoh bahwa pada saat yang bersamaan seorang individu bisa memiliki identitas sebagai seorang warga kota, penari, penggemar olahraga, penyuka musik, dll. Yang mana hal tersebut tidak dapat dipisah-pisah. Meski harus diakui juga bahwa tidak semua identitas tersebut dapat ‘bermain’ dalam porsi yang sama di setiap saat. Identitas sebagai seorang penggemar olahraga, misalnya, akan lebih menonjol dibandingan identitasnya sebagai warga kota, penari, dll, pada saat seorang indvidu menyaksikan sebuah pertandingan olahraga. Hal inilah yang kemudian disebut sebagai competing identity. Yakni keadaan dimana satu atau sebagian kecil dari banyaknya identitas yang dimiliki oleh seorang individu memainkan porsi yang lebih banyak dibanding dengan identitas yang lain. (Sen, 2007: 4)

Meski demikian, memiliki banyak identitas tidak selalu bermakna bahwa seseorang dapat dengan leluasa dan bebas berekspresi sesuai dengan yang dikehendaki. Memiiliki identitas yang berbeda dengan kebanyakan anggota suatu komunitas atau kelompok tertentu kerap kali justru tidak dianggap sebagai sesuatu yang ‘unik dan asik’ tetapi justru ‘nyleneh dan aneh’.

Salah satu masalah utama dalam ‘identitas’ adalah adanya standarisasi atas identitas itu sendiri. Semisal, ketika ‘menjadi’ islam bermakna ‘harus sama’ dengan (Majelis Ulama Indonesia) MUI, maka pada saat inilah keragaman dan keluasan identitas sedang direduksi, dengan diperas habis tanpa sisa. Konsekwensi logis dari hal ini adalah meredupnya keberagaman itu sendiri, maka tidak heran jika kemudian banyak kita saksikan ‘fenomena’ pengkafiran atas islam-islam yang lain, yang terjadi bukan karena mereka (kelompok yang dikafirkan) tidak sejalan dengan ajaran ‘mainstream’ Islam, tetapi simply karena mereka tidak sama dengan MUI, yang bukan saja berperan sebagai Majelis Ulama, tetapi juga sebagai ‘pemegang standar’ keabsahan Islam.

Pun demikian halnya dengan keragaman identitas seksual, jika mengacu pada narasi di atas, maka Homoseksualitas, misalnya, dianggap tidak normal bukan karena ia salah, tetapi karena homoseksulaitas dianggap ‘belum’ bisa memenuhi standar ‘kebenaran’ atas identitas seksual.

Hal ini kemudian bermakna bahwa identitas itu cair, sehingga ia bisa berubah-ubah seturut dengan perubahan pola pikir masyarakat sekitar. Bisa jadi, yang dianggap ‘benar’ saat ini adalah ‘salah’ di masa sebelumnya, dan begitu juga sebaliknya.

Oleh karenanya menjadi terlalu naïf kiranya jika masih banyak dari kita yang dengan mudah terjebak pada fanatisme sempit yang berujung pada pembenaran buta atas kelompok sendiri dan menyalahkan kelompok yang lain. ‘Salah’ dan ‘benar’ tidak bergantung pada seberapa ‘salah’ suatu kesalahan, atau seberapa ‘benar’ sebuah kebenaran itu. Semuanya bergantung kepada seberapa ‘kuat’ dan ‘meyakinkannya’ sesuatu untuk dianggap sebagai yang benar dan yang salah.

Alngkah baiknya jika kita, dengan segenap kerendahan hati dan kedewasaan pola fikir, menerima keragaman identitas sebagai sebuah anugerah yang patut untuk dirayakan, bukan untuk disingkirkan. Sudah patut pula bagi kita semua untuk berdiri tegak menentang segala bentuk diskriminasi, karena hal itu adalah bukti nyata bahwa keberagaman kita sedang dikebiri.

Salam keberagaman, salam penuh cinta tanpa menuntut balasan.

 

Sebuah Catatan Kecil Dari 1st Diversity Youth Camp, Mojokerto, Jawa Timur

Salam semangat para Peacemaker,

Artikel kali ini sepertinya akan tepat jika diberi tajuk “pengetahuan tak pernah basi”. Yap!! Meski telah usai sejak satu bulan yang lalu, namun dengan sangat sadar kami merasakan bahwa 1st Diversity Youth Camp telah meninggalkan jejak dan pengetahuan yang luar biasa. Koordinator Divisi LitBang kami, Anam, berbagi cerita melalui sebuah catatan kecil. Yuk disimak, direnungkan, dan kami tunggu komentarnya.

Mojokerto 25 Oktober 2012

Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman: Saatnya Kaum Muda ‘Melek’ Keberagaman dan Perdamaian.

Sebuah Catatan Kecil Dari 1st Diversity Youth Camp, Mojokerto, Jawa Timur.

“Jika ada dari teman-teman semua yang merasa cakep, good looking and nice, mohon berdiri!”, begitu kira-kira penggalan kalimat yang saya lemparkan saat berkesempatan menjadi pembicara pada 1st Diversity Youth Camp yang diselenggarakan oleh teman-teman Staramuda di Mojokerto beberapa waktu yang lalu. Rasa bangga dan haru menjadi satu manakal menyaksikan ‘ternyata’ masih banyak teman-teman muda yang rela duduk berjajar, belajar, dan bertukar pikiran untuk sebuah ide yang seragam, keberagaman dan perdamaian. Hal ini menjadi menarik karena pemuda rupanya tidak se-sepele gambaran media akhir-akhir ini yang selalu mengaitkan pemuda dengan tawuran, pergaulan bebas, dan hal-hal negatif lainnya. ‘pemuda’ boleh saja menjadi sebuah entitas tunggal, namun hal ini tidak bermakna ‘pemuda’ harus diartikan secara dangkal dan janggal. Karena ketika menjadi identitas, ‘pemuda’ memiliki makna yang tidak terbatas.

‘Identitas dan ruang tidak terbatas’ merupakan tema yang saya angkat dengan membawa bendera Yifos sebagai organisasi dimana saya belajar dan berproses dengan sabar. Menjumpai sekitar 50 an teman-teman muda yang mayoritas berasal dari Jawa Timur dengan segala keunikan dan kemandirian identitas mereka masing-masing, saya merasa beruntung karena bertemu dengan para generasi bangsa yang bersedia untuk mempelajari dan menikmati berbagai macam identitas yang masing-masing dari mereka miliki. Keberagaman identitas ini bukan saja terbatas pada agama dan suku budaya saja, tetapi juga keragaman identitas seksual. Maka tidak heran jika dalam kemah pemuda ini terdapat banyak pemuda dengan beragam identitas agama, kesukuan, dan seksual. Saya juga berjumpa dengan dua kawan muda yang luar biasa dari GAYa Nusantara Surabaya, Antok Serean, dan Dining dari Aliansi Remaja Independent.  Juga teman-teman muda di StaraMuda yang tidak kalah hebatnya.

Pada sesi “bergulat dengan identas di ruang tanpa batas”, saya mengajak para teman muda untuk berefleksi dan menyadari bahwa masing-masing dari kita adalah unik dan spesial, karena hanya ada satu orang yang benar-benar seperti kita di dunia ini, yakni diri kita sendiri.  Tidak ada satupun orang di dunia ini yang nakalnya, pinternya, bawelnya, sholehnya, dll, yang sama persis seperti kita, oleh karenanya kita semua adalah unik dan special. Maka sudah sepatutnya kita merayakan hal ini sebagai sebuah anugerah dan berkah. Namun demikian, hal ini tidak selalu bermakna bahwa ‘keunikan’ yang kita miliki selalu dimaknai sebagai sebuah anugerah oleh masyarakat dan lingkungan dimana kita tinggal dan berjejal. Tidak jarang sesuatu yang kita anggap ‘unik’ justru dimaknai sebagai ‘munafik’ yang berisik.

Oleh karenanya menjadi penting untuk mengetahui bahwa keunikan yang kita miliki adalah identitas yang terus berkelindan di ruang tanpa batas. Dengan mengutip Amrtya Sen (2006), kita akan mengerti bahwa identitas digunakan sebagai alat identifikasi atas suatu entitas atau peristiwa. Sementara identitas itu sendiri terbagi kedalam acquired, dimana kita sendiri sebagai subyek yang berjuang untuk menemukan dan akhirnya mempertahankan identitas personal kita, dan ascribed dimana orang lain yang justru memberikan kita berbagai label bernama identitas itu kepada kita. Maka ketika ada salah satu peserta camp yang berdiri ketika saya meminta siapa saja yang merasa keren untuk berdiri, saya lalu bertanya

“Apa yang membuatmu merasa keren?”, dengan singkat namun padat, ia menjawab, “karena saya memang merasa keren!”. “okee, itu adalah salah satu bentuk Acquiring identity, karena kamu mencoba melabeli dirimu sendiri dengan identitas tertentu”, sahut saya cepat, lalu saya melanjutkan “sekarang mari kita mencoba melihat ascribed identity apa yang orang lain miliki tentang kamu”, maka saya lalu bertanya kepada seluruh peserta camp yang ‘kebetulan’ tidak ikut berdiri, “apakah menurutmu dia (peserta yang sedang berdiri itu) keren?”. Jawaban atas pertanyaan itu adalah salah satu jenis ascribed identitas.

Dengan kata lain hal ini bermakna bahwa, baik acquired dan ascribed tidak bisa terlepas satu sama lain. Saya misalnya, tidak akan bisa mengklaim diri saya sebagai yang ‘keren’ jika tidak ada satupun orang yang setuju bahwa saya memang ‘keren’. Meski hal ini tidak selalu bermakna bahwa saya harus menunggu orang lain setuju dengan klaim saya, karena bisa saja saya ‘keren’ dengan cara dan standar yang saya miliki sendiri. Maka poin penting dari dualitas identitas adalah “YOU KNOW BEST OF WHAT AND WHO YOU ARE”. Adalah kita sendiri yang paling mengerti apa yang terbaik untuk kita, bukan orang lain. Namun demikian, adalah wajib bagi kita untuk menghormati hak orang lain untuk berbeda pendapat dengan kita.

Dalam bahasa yang simple saya ingin mengatakan, Jikapun orang lain tidak setuju dengan ke-oke-an kamu, so what gitu loh? Yang penting, kita tidak memaksakan pendapat kita ke orang lain. Karena sesuatu yang kita anggap ‘benar’ belum tentu ‘baik’. Jadi, lakukan yang terbaik dan jangan rumpik!

Anam.

Oleh-Oleh dari Surabaya

Hi Peacemaker!
Ini adalah tulisan kedua yang admin bagi hari ini. Tulisan ini adalah oleh-oleh dari Anam (salah satu pengurus YIFoS periode 2012-2014) yang baru kembali dari perjalanannya ke barat, eh maksud admin dari Surabaya.

Surabaya dan
Sekelumit Cerita Yang Tersisa..

Adalah GAYa Nusantara, sebuah organisasi yang telah menjadi ‘home’ bagi teman-teman LGBTIQ dan siapa saja yang merasa kekerasan dan diskriminasi berdasarkan keragaman seksualitas harus segera diberantas, yang ‘memboyong’ saya untuk menghabiskan akhir pekan di surabaya pada , kota pahlawan yang masih kental nuansa jawatimuran.. awalnya saya mendapat undangan dari seorang teman di GAYa Nusantara untuk menjadi salah satu narasumber di acara yang diadakan oleh organisasi  yang telah berdiri sejak 1 agustus 1987 itu. Meski rupanya saya tidak hanya datang untuk turut memeriahkan acara tersebut, karena surabaya telah berhasil menahan saya untuk tinggal dan berpetualang lebih lama di sana… suatu hal yang sebenarnya tidak masuk dalam rencana kunjungan, namun justru menjadi momen yang tidak akan mudah untuk dilupakan.

Saya berangkat ke surabaya menggunakan bus yang meskipun umum, namun kecepatannya di jalanan benar-benar ‘ra umum’! ngebut banget… namun tak apa, saya memang harus segera sampai ke surabaya, lebih baik datang cepat dari pada telat. Namun sepertinya jalanan sedang tidak bersahabat dengan saya, kemacetan dan berbagai gangguan jalanan lainnya telah menyeret bus yang saya tumpangi untuk menggagahi jalanan lebih lama dari jadwal yang seharusnya. Maka baru ketika matahari terbenam total, saya baru bisa merasakan udara surabaya di terminal Purabaya yang dulu sempat terkenal dengan imej begundal, tidak menunggu lama, saya segera bergegas mencari taksi untuk mengantarkan tubuh lemas saya ke sebuah alamat dimana diskusi akan segera dihelat. Sebelum taksi yang saya tumpangi berhenti dengan sempurna, sudah tampak hidung Antok Serean di seberang jalan menunggu saya untuk segera masuk ke lokasi karena acara rupanya sudah dimulai.

Malam itu saya ‘berduet’ dengan mas Dede Oetomo dalam diskusi hangat yang mengusung tema ‘freedom’.  Diskusi yang dilakukan dalam rangka memperingati One Day One Strunggle (ODOS) ini juga dimeriahkan oleh pemutaran film Children of Srikandi, dan juga beberapa performance luar biasa dari teman-teman transgender yang cantiknya sudah sanggup bikin syahrini ‘keder’. Dengan nada dan bahasa yang bersahaja, mas Dede menyampaikan bahwa kebebasan tidak berarti bebas sebebas-bebasnya, sebab kebebasan dibatasi oleh hak orang lain yang jelas tidak dapat diganggu gugat atas nama ‘kebebasan’. Oleh karenanya ‘membunuh’ tidak bisa dikatakan sebagai kebebasan karena hal ini justru melanggar hak orang lain untuk hidup. Sementara saya yang ‘dipeseni’ untuk berbicara dengan tema besar ‘kebebasan dan islam’ menyampaikan bahwa islam menjunjung tinggi kebebasan, meski hal ini harus dimaknai secara luas, yakni bahwa kebebasan yang diperbolehkan adalah kebebasan yang menjurus kepada kebaikan bersama. Oleh karenanya meskipun kalimat ‘allahuakbar’ tak henti dikumandangkan, misalnya, namun tetap tidak dapat dibenarkan jika hal ini digunakan sebagai ‘perintah perang’ terhadap kelompok-kelompok lain yang dianggap tidak benar, sebab hal ini bertentangan dengan semangat perdamaian dan mengedapankan dialog yang diusung oleh islam sejak jaman bahula.

Beranjak malam, diskusipun berakhir. Saya dan beberapa teman dari GAYa Nusantara kembali berkumpul, namun kali ini kami melakukannya di sebuah tempat makan. Yap, kami menutup malam itu dengan makan-makan dan berkenalan lebih dekat.

Bagi saya pribadi, makan malam itu menjadi lebih dari sekedar acara makan biasa, karena di situ saya berkesempatan untuk berkenalan dan berbagi cerita dengan lebih banyak orang lagi yang memiliki kepedulian yang sama terhadap isu keadilan dan kemanusiaan. Saya tentu belajar banyak dari situ.. pertemuan dengan mbk khanis dan mak ukke menjadi salah satu momen terbaik saya saat itu. khusus untuk mak ukke, saya sangat menikmati setiap momen yang kami lewatkan bersama, bahkan saya menawarkan diri untuk ‘diculik’ dan tinggal dirumahnya selama saya di Surabaya.  Saya ‘tiba-tiba’ ingin tinggal di surabaya lebih lama lagi…

Malam itu, saya menginap di sebuah hotel di daerah Bambu Runcing, bersama beberapa teman yang berhasil mengubah malam itu menjadi ‘a wonderful sharing time!’

Mak ukke beneran menepati janjinya untuk datang menjemput saya dan mengajak saya tinggal di rumahnya. Ah senangnya…  bukan perkara dapat tempat inap gratis yang membuat saya senang, namun saya menemukan sosok ‘teman’ baru yang begitu terbuka dan jujur mengenai banyak hal. Sepertinya memang hanya saya yang memanggil Ukke dengan ‘mak’, seiring dengan perjalanan waktu saya merasa bahwa beliau lebih dari sekedar teman, she is simply ‘mak’ to me.

Kami sharing banyak hal selama saya tinggal bersama mak ukke di rumahnya yang menjadi satu dengan kantor tempatnya bekerja sehari-hari di daerah UPN surabaya. Mak ukke sering sekali bercerita tentang pasangan perempuannya yang telah tinggal bersamanya selama sekitar 7 tahun terkahir ini, yang sayangnya dia tidak sedang berada di rumah, dari cerita-cerita itu saya belajar banyak hal. Salah satunya adalah saya percaya bahwa cinta itu buta. Ia tidak memandang identitas agama dan seksual seseorang, love is love, that’s it! Sambil lalu mak ukke bilang, ‘saya ini lesbian sejak dari kandungan kok!’, maka tak peduli apa kata orang, cinta suci mak ukke kepada sesama perempuan harus tetap diperjuangkan…

Mak ukke juga dengan senang hati mengajak saya keliling-keliling surabaya menembus macetnya jalanan, terutama ke tempat-tempat ‘startegis’ bagi teman-teman LGBTIQ. Saya begitu terperangah sekaligus takjub tak terjamah menyaksikan betapa teman-teman LGBTIQ begitu bebas mengekspresikan diri… suatu hal yang sangat jarang bisa didapatkan di kota-kota lainnya. Atas kebaikan mak ukke pula saya berkesempatan bertemu dengan berbagai macam teman-teman ‘istimewa’ yang tentu tidak akan mudah saya lupakan.

(Khoirul Anam)

Wah, seru banget ya peacemaker!!! Semoga kapan-kapan admin bisa ada waktu mengunjungi Surabaya dan berinteraksi dengan para peacemaker baik dari komunitas LGBTIQ atau komunitas iman atau individu yang siap sedia membuka tangannya lebar-lebar untuk mengadakan obrolan santai terkait topik Iman dan Seksualitas.

Tetap terus ikuti perkembangan postingan di blog YIFoS ya, untuk informasi-pembelajaran-cerita-sharring tentang iman dan seksualitas serta keterkaitannya.

Salam Damai ^_^